Cerpenku: Payung tak Bersayap
Payung Tak Bersayap Karya: Rini Febriani Sari Nama pena : Naii Aku terbangun pada pagi-pagi buta ketika adzan shubuh berkumandang. Beranjak dari tempat tidur dan segera berbenah. Terdengar suara dentingan bulir air jatuh ke atap rumah, kutelisik dan intip dari kisi jendela kamar yang redup akan cahaya bahwa diluar sedang hujan. Aku langsung bergegas untuk mandi lalu setelahnya sholat shubuh dan sarapan pagi untuk berangkat kesekolah. Karena jam sudah menunjukkan pukul 05.25 WIB, dan aku membutuhkan waktu 1 jam untuk bersiap-siap. “Cepat! Nanti hujan semakin deras. Kamu bakalan telat masuk kelas”. Kata ibuku yang sedang menggoreng ayam untuk bekal sekolahku hingga sore kepulanganku nanti. “Iya bu, guru pun ngerti kok kalau lagi hujan, pasti ada dispensasi waktu”. Ucapku seraya memakai kaus kaki sebagai pelindung aurat wanita. Ibuku mengambil payung dibelakang pintu dapur, sepatuku dengan model seperti pansus balet yang bentuknya terbuka di bagian telapak kaki atas...