Postingan

Semesta Bermajas Oleh: Rini Febriani Sari 1/ Aku dikembalikan pada renjana padang sahara. Mendengkur dengan unta di balik siluet bayangan cahaya matahari mengenai tubuh.   Dibawa pergi riuh angin tak pernah lembut   menyapa.   Lalu pasir ikut bersamanya mengenai katup mata hingga mengering.   Menasbihkan setiap benih kekalutan beriring. 2/ Sekarang kurapihkan semua kekusutan yang terjadi saat itu.   Nyatanya aku nangis darah, mengeluarkan butir pasir   menjadi gumpalan kecemasan.   Sendu kurasa dalam tekad mencarimu di luasnya tanah membawa harap menjadi debu.   3/ Dulu, rerumputan menjadi saksi diamnya kita dalam senyap sekala. Kemudian desau itu menarik jariku untuk menyatu dan menengadah dalam harap serah. Tiada kekeringan diantara hijaunya kedamaian.   4/ Hutan memberi selaksa dalam sengitnya semak rusuh. Kau, aku, adalah gebu yang menyaksikan detik-detik satu daun berjatuhan.   Lalu bumi terselimuti resah dan b...

Ronda yang Menjaga

  Aku terjaga malam, Dalam hening yang terlamun, Terketuk sepi dan haluan angin, Karena,  Kukira itu ronda. Aku tersipu ketika aku disebut maling, Upaya mencari alasan, Bahwa aku terjegal malam. lagi-lagi! Kukira itu ronda. Dia memegang pentungan. Agar aku diketuk pukul untuk bersuara. Ketika semua terjaga malam. Dan itu kusebut rindu. Yang yakin akan ronda. Bahwa aku terjaga malam. Dalam penugasan, Yang ku ucap rindu. -Nai Puisi ini menjelaskan rindu, bahwasanya rindu itu seperti ronda. yang setiap malam dijaga dan terjaga oleh penjagaan yang disebut rasa yang mengusik untuk menuju temu.

Perwakilan Rasa untuk Sepatu Kusam

Gambar
            Nada-nada kepergian untuk perpisahan terputar di bilik kamar dekat perapian benda-benda bernama kenangan. Meretas hati sejenak saat menarik cerita lama itu, kini telah berangkaikan kata do’a dan harapan untuk semua mimpi dan angan. Kesibukan kali ini bukanlah penjarak, kita atau disebut kau dan aku masihlah tetap sudut pandang “kita” tanpa pembeda. Yang pernah kita lalui masihlah murni dalam sekujur jejak di kota itu. Jika aku pulang dan kau masih pada meja kesibukan, semua ingatan itu terbanting di aspal kota berlukis senyum.             Istilah merpati yang amanah dalam menyampaikan suratnya, aku pun begitu bijaksana ketika mendo’a. Apakah langit akan mencurahkannya dengan linangan atau surya. Aku hanya berharap pada-Nya, jika itu semua adalah proses pengiriman yang begitu hebat. Kita masih berangkaikan kata masa depan yang tersusun rapi di tulisan-tulisan ke...

Cerpenku: Payung tak Bersayap

Payung Tak Bersayap Karya: Rini Febriani Sari Nama pena : Naii Aku terbangun pada pagi-pagi buta ketika adzan shubuh berkumandang. Beranjak dari tempat tidur dan segera berbenah. Terdengar suara dentingan bulir air jatuh ke atap rumah, kutelisik dan intip dari kisi jendela kamar yang redup akan cahaya bahwa diluar sedang hujan. Aku langsung bergegas untuk mandi lalu setelahnya sholat shubuh dan sarapan pagi untuk berangkat kesekolah. Karena jam sudah menunjukkan pukul 05.25 WIB, dan aku membutuhkan waktu 1 jam untuk bersiap-siap.  “Cepat! Nanti hujan semakin deras. Kamu bakalan telat masuk kelas”. Kata ibuku yang sedang menggoreng ayam untuk bekal sekolahku hingga sore kepulanganku nanti.  “Iya bu, guru pun ngerti kok kalau lagi hujan, pasti ada dispensasi waktu”. Ucapku seraya memakai kaus kaki sebagai pelindung aurat wanita. Ibuku mengambil payung dibelakang pintu dapur, sepatuku dengan model seperti pansus balet yang bentuknya terbuka di bagian telapak kaki atas...