Perwakilan Rasa untuk Sepatu Kusam


            Nada-nada kepergian untuk perpisahan terputar di bilik kamar dekat perapian benda-benda bernama kenangan. Meretas hati sejenak saat menarik cerita lama itu, kini telah berangkaikan kata do’a dan harapan untuk semua mimpi dan angan. Kesibukan kali ini bukanlah penjarak, kita atau disebut kau dan aku masihlah tetap sudut pandang “kita” tanpa pembeda. Yang pernah kita lalui masihlah murni dalam sekujur jejak di kota itu. Jika aku pulang dan kau masih pada meja kesibukan, semua ingatan itu terbanting di aspal kota berlukis senyum.
            Istilah merpati yang amanah dalam menyampaikan suratnya, aku pun begitu bijaksana ketika mendo’a. Apakah langit akan mencurahkannya dengan linangan atau surya. Aku hanya berharap pada-Nya, jika itu semua adalah proses pengiriman yang begitu hebat. Kita masih berangkaikan kata masa depan yang tersusun rapi di tulisan-tulisan kemarin.
            Kini, atap itu telah melebar di seluruh penjuru dunia. Di belahan bumi mana aku dan kau menatap langit yang terpancar di sudut kota berhias awan, matahari, bintang, biru, dan jingga hingga hitam. Ada yang menetap, ada pula takdir merantau bagi kita yang ingin. Serentak dalam kata see you on top, dan bertemu dalam solidaritas tinggi.
1/
Akhir-akhir ini kota diselimuti dingin,
Seperti kita yang ingin,
Tapi harap dibawa angin,
Yang entah kemana ditumpukin.
2/
Awalnya semua berangan,
Tapi semua tak ada kebenaran,
Hingga berdebur di kota berandan,
Dan menyisakan kepenatan.
            Rindu itu semakin membungkus diri, melambaikan keretakan yang terpancar dalam temu. Karena menemuimu pun akan menciptakan rindu yang baru, pikirku. Rindu itu serasa hutan hijau belantara yang terbentuk labirin. Dan tak kutemukan jalan pulang untuk kembali bercengkrama melihat jejak yang terbanting di kota ketika kita bermain.       

            Aku telah mengerti, pisah hanyalah sebuah jeda. Yang tak lepas dari perjalanan kehidupan seseorang. Ada kalanya kita bertanduk pada impian yang masing-masing dari kita berbeda dalam bidang yang tertera pada diri. Berserah menjadi pena yang terpatri dalam goresan pengetikan dan berambisi untuk merengkuh layar lebar. Mungkin karena urusan-urusan pribadi sehingga jari-jari pun hanya sekedar selamat pagi dalam papan keyboard. Bukan hanya mungkin lagi, faktanya kita sudah menata kedatang kita lagi yang bertemu dalam kata see you on top. Kesan telah tertuliskan dalam catatan kaki kita yang sudah berjejak di sekujur alas yang sama, yaitu sepatu kusam dulu. Jangan lupa undang jika mimpi-mimpi itu tergapai. Sejauh apapun kita menyibukkan diri. Tapi ketahuilah, kita harus tahu apa yang kita sibukkan. Tak mengapa kita pisah dulu, karena jalan itu memang tertuju pada masing-masing kita.
Inilah cara dari masing-masing kita yang meluapkan perwakilan rasa,
Kau begitu, dan aku begini.

See you on top!
Kunjungi akun terkait sajak cerita: @ipsthree (follow ig personil-personilnya)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ronda yang Menjaga

Cerpenku: Payung tak Bersayap