Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2018

Ronda yang Menjaga

  Aku terjaga malam, Dalam hening yang terlamun, Terketuk sepi dan haluan angin, Karena,  Kukira itu ronda. Aku tersipu ketika aku disebut maling, Upaya mencari alasan, Bahwa aku terjegal malam. lagi-lagi! Kukira itu ronda. Dia memegang pentungan. Agar aku diketuk pukul untuk bersuara. Ketika semua terjaga malam. Dan itu kusebut rindu. Yang yakin akan ronda. Bahwa aku terjaga malam. Dalam penugasan, Yang ku ucap rindu. -Nai Puisi ini menjelaskan rindu, bahwasanya rindu itu seperti ronda. yang setiap malam dijaga dan terjaga oleh penjagaan yang disebut rasa yang mengusik untuk menuju temu.

Perwakilan Rasa untuk Sepatu Kusam

Gambar
            Nada-nada kepergian untuk perpisahan terputar di bilik kamar dekat perapian benda-benda bernama kenangan. Meretas hati sejenak saat menarik cerita lama itu, kini telah berangkaikan kata do’a dan harapan untuk semua mimpi dan angan. Kesibukan kali ini bukanlah penjarak, kita atau disebut kau dan aku masihlah tetap sudut pandang “kita” tanpa pembeda. Yang pernah kita lalui masihlah murni dalam sekujur jejak di kota itu. Jika aku pulang dan kau masih pada meja kesibukan, semua ingatan itu terbanting di aspal kota berlukis senyum.             Istilah merpati yang amanah dalam menyampaikan suratnya, aku pun begitu bijaksana ketika mendo’a. Apakah langit akan mencurahkannya dengan linangan atau surya. Aku hanya berharap pada-Nya, jika itu semua adalah proses pengiriman yang begitu hebat. Kita masih berangkaikan kata masa depan yang tersusun rapi di tulisan-tulisan ke...