Cerpenku: Payung tak Bersayap


Payung Tak Bersayap
Karya: Rini Febriani Sari
Nama pena : Naii
Aku terbangun pada pagi-pagi buta ketika adzan shubuh berkumandang. Beranjak dari tempat tidur dan segera berbenah. Terdengar suara dentingan bulir air jatuh ke atap rumah, kutelisik dan intip dari kisi jendela kamar yang redup akan cahaya bahwa diluar sedang hujan. Aku langsung bergegas untuk mandi lalu setelahnya sholat shubuh dan sarapan pagi untuk berangkat kesekolah. Karena jam sudah menunjukkan pukul 05.25 WIB, dan aku membutuhkan waktu 1 jam untuk bersiap-siap. 
“Cepat! Nanti hujan semakin deras. Kamu bakalan telat masuk kelas”. Kata ibuku yang sedang menggoreng ayam untuk bekal sekolahku hingga sore kepulanganku nanti. 
“Iya bu, guru pun ngerti kok kalau lagi hujan, pasti ada dispensasi waktu”. Ucapku seraya memakai kaus kaki sebagai pelindung aurat wanita.
Ibuku mengambil payung dibelakang pintu dapur, sepatuku dengan model seperti pansus balet yang bentuknya terbuka di bagian telapak kaki atas tanpa bertali ataupun sejenisnya, sangat di sayangkan apabila diinjakkan di tanah lembab berhias cokelat yang dilumerkan. Rasanya sangat tidak etis jika sepatu mungil ini ternodai walaupun sepatu ini sudah kusam. Kemudian aku berdiri di depan pintu dapur dan memandangi langit yang menangis disertai suara gemuruh awan gelap. Seseorang memayungiku di samping kanan dan melangkahkan kaki kami secara bersamaan mengakhiri pintu dapur rumah. Dia adalah sesosok malaikat tanpa sayap yang menganut 3 profesi sekaligus, yaitu sebagai Ayah, ibu dan seorang bidan kandungan di desa bantan. Ayahku telah kembali ke sisi-Nya 3 tahun yang lalu ketika aku duduk dibangku Tsanawiyah karena kecelakaan kapal saat bertugas ke Nias.
Ibu adalah laksana payung bagiku, selalu ada disisi kanan tasku ketika hujan datang mengguyurku habis-habisan. Begitu salut melihat tatapannya dan garis lengkung yang selalu ia torehkan di bibir yang merekah indah untuk coba tutupi luka yang deras dan beban awan gelap yang pernah menghujani langkahnya. 
Langkah kaki ini habis di persimpangan temuku dengan transportasi penghantar menuju sekolah. 
“Bu, Rita pergi sekolah dulu. Assalamua’alaikum”. Sambil mencium tangan kanan ibuku yang mulai kendur kulitnya teriris waktu. 
“Wa’alaikumussalam. Hati-hati di jalan ya nak!”. Ucap ibuku. Kemudian aku melempar senyum kepadanya. 
Aku sudah sampai di halte penunggu transportasi berikutnya, hujan masih merangkai titik-titik rerinai yang terjatuh disekitaran aspal kota. Mataku terpaku pada seonggok tiang di tengah kota bertuliskan adipura. Kota pematang siantar ini memiliki sikap warga yang toleran terhadap perbedaan antar umat beragama. Kota ini mendapatkan penghargaan adipura pada tahun 1993 atas kebersihan dan kelestarian lingkungan kotanya. Di kota ini masih banyak terdapat sepeda motor BSA model lama sebagai becak bermesin yang menimbulkan bunyi keras. Terletak di dekat garis khatulistiwa yang menjadikannya tergolong kedalam daerah tropis dan daerah datar.
Angkutan sudah tiba, aku bergegas dan berdesakan naik ke dalam angkut karena disekitaran halte banyak siswa yang menunggu untuk menghantar mereka ke sekolah. Hingga di sepanjang perjalanan aku pun turun di depan gerbang, sekolahku sering disebut sebagai sekolah diatas bukit. Makanya ketika aku berjalan naik ke atas sering dengan nafas  terengah-engah. 
Tiba – tiba aku berpapasan dengan seseorang yang aku kenal, dia bernama Rifa’i Sipayung. Teman satu organisasi Mading yang cukup humoris dengan sikap rempongnya walaupun tidak ingin di juluki humoris Karena maunya dijuluki romantis. Kebetulan dia membawa payung, gayanya yang cukup kemayu membuat ku ingin tertawa ketika dia menawarkanku untuk sepayung. walaupun aku membawa payung, tapi tak mau ku pakai karena ingin menikmati rintikan hujan yang tergenang mengalir dibawah lalu menghanyutkan kenangan. 
“Hei rita! Gak mau? Basah disuruh pulang kau nanti sama ibu cantik”. Pernyataannya membentuk  logat batak gaya kemayu yang mencoba menghasutku. 
Aku mengangguk dan menghampirinya, karena hasutannya yang membuatku berubah pikiran untuk menikmati air hujan yang tidak begitu deras bulirnya jatuh. kami berjalan menyusuri wahana pemandangan sekolah yang masih diguyur hujan. Sepanjang jalan dia membuatku tertawa dengan candanya yang membuat suasana hidup. Akhirnya aku berpisah dengannya di sepanjang koridor yang berjejer kelas 3. 
“Makasih ya fa’I” ucap terima kasihku. 
“Sami-sami, lain kali bawa payung. Kalau gak, buat borumu Sipayung ya”. Ledekannya begitu keras. 
Pintu kelas tertutup, tanda ada konser di dalamnya. Ku buka pintu secara perlahan, lalu mereka semua terdiam. Kemudian melanjutkan konser yang disertai suara dentingan meja yang tak menunjukkan sekolah agamis. Beginilah kelasku, dengan suasana dramatis yang puitis akan sikap sadis sebagai musisi bengis. Dijuluki sebagai kelasnya nara pidana, ya! Itulah IPS-3. Secara turun-temurun memang sudah terkutuk untuk menjadi buronan di sekolah ini. Membuat yang imannya naik menjadi turun setelah masuk menjadi personilnya. Apalagi bagi sebagian wanita-wanita bidadari surga yang telah seatap dengan mereka, hanya mengelus dada untuk dikuatkan keimanan. yang lebih abnormal adalah para lelakinya karena kelasku sama rata lawan jenisnya. 
“Assalamua’laikum?” ucap salamku.
 “Waalaikumussalam”.Hanya beberapa, yang lainnya sibuk masing-masing.
 “Uda sarapan?” Tanya sebangkuku. 
“Sudah me. Makanlah!. Jawabku. 
“Lah, apa yang mau dimakan rit? Makanya aku nunggu kau datang, biar(…..).” katanya sambil main mata.
                   Pekikan katanya seperti menghanguskan bekal ayam gorengku. Tapi, memang inilah tradisi kami pada pagi hari. ketika aku tidak membawa bekal artinya dia yang memberiku, dalam istilah biologi simbiosis mutualisme. Dia bernama meme, kami sering bicara tentang diksi. Kegemaran yang serupa dengan dia membuat kami menyatu dalam percakapan. 
*
Sore tiba, aku pulang sekolah pukul 17.00 WIB. Semua siswa dan siswi pulang kerumahnya masing-masing. 
Ketika malam hari pukul 21.00 aku masih berkutik dengan tugasku, sedangkan ibuku masih di meja kerjanya ruang instalasi pasien. Beberapa saat kemudian, ada yang datang di depan rumahku ditandai suara mesin mobil dengan suara kesakitan berlirik aduh. Ku intip dari jendela kamar bahwa yang datang adalah sepasang suami istri. Sang istri kesakitan mau melahirkan seorang anak. Sedangkan ibuku membuka pintu untuk mempersilahkan mereka masuk. Aku mendekati ruangan, sejujurnya sering kali pasien ibu melahirkan di rumahku. Tapi aku tidak mau melihat ataupun mendengarkan jerih payahnya seorang ibu melahirkan, karena pada mitosnya jika seorang anak gadis melihat ibu-ibu melahirkan bakalan trauma nantinya.
Kulihat ibuku kesana kemari mempersiapkan segala perlengkapan untuk menangani pasien melahirkan agar proses persalinan berjalan lancar. Si istri terus saja berkata “Sakit”, namun sang suami meredakan di sisi kanannya dengan membaca solawat. 
“Ucap  solawat mah..” kata sang suami berusaha menenangkan istrinya.
Hujan datang lagi malam ini. Ibuku berusaha menanganinya.
“Sekali lagi bu, tarik napasnya..” kata ibuku kepada ibu yang melahirkan itu.
“Selamat bu, anak ibu laki-laki.” Ucap selamat dari ibuku.
Aku berusaha untuk tetap menilik kegiatan persalinan, ternyata begitu hebatnya kuasa Allah dalam proses itu. Aku sering sekali menyangkal perkataan ibu ketika menasehatiku, namun perjuangan ibuku dalam melahirkanku begitu kelam didera sakit. 12 Ruas tulang rusuk secara bersamaan patah, darah yang keluar dari tubuh seorang wanita yang melahirkan begitu melimpah ruah. Aku salut dengan ibuku, walaupun ayah sudah tak bersanding dengannya di dunia ini. Namun dia tegar menghadapi segala permasalahan yang ada karena kekuatan dari-Nya. Dialah payung inspirasiku, obat dari air mata tangisan awan gelap yang menghujamku berkali-kali.



















Biodata Narasi Penulis
Rini Febriani Sari, Lahir pada tanggal 21 februari tahun 2000 di Pematang siantar kota Adipuranya Negara Indonesia. Kegemarannya adalah Merajut dan Menulis. Dengan harapan bisa menjadi seorang designer dan menguasai salah satu bahasa di dunia yaitu Bahasa Arab. Namun ia sekarang terkonsentrasi pada bidang Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah di UINSU Medan. Tak menjadikannya gentar karena menyimpang dari bakatnya. Karena ia yakin, Ridho Allah Ridhonya orang tua. Dia adalah seorang penulis pemula yang masih dibilang mentah dalam hal bersusun kata. Bahkan hal ini bisa dibilang karya pertamanya dalam hal cerpen. Dia mulai mencoba menulis kembali walau akhirnya selalu gagal dan berhenti lanjut menulis. Tetapi dia berharap naskah kali ini dapat menjadi langkah awal untuk mengasah kemampuannya dalam menulis sebuah karya. Jika ingin menghubungi penulis bisa melalui IG pengguna rinifebriani79, id LINE samarrakota,  nomor HP/WA 082294533673, akun FB Rini Febriani Sari, dan e-mail rfebriani@gmail.com.

Komentar

  1. E-mail aktif saya : rinifebriani2000@gmail.com. ralat yang diatas.

    BalasHapus
  2. E-mail aktif saya : rinifebriani2000@gmail.com. ralat yang diatas.

    BalasHapus
  3. Bagus naii..keren skaligus sedih😢 semoga tulisannya bnyak digemari orang ya..☺

    BalasHapus
  4. Bagus naii..keren skaligus sedih😢 semoga tulisannya bnyak digemari orang ya..☺

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah terima kasih dini 😂

      Hapus
    2. Alhamdulillah terima kasih dini 😂

      Hapus
  5. Subhanallah rinai.. Bagus banget cerita nya ��

    BalasHapus
  6. Subhanallah rin rin terenyuh daku

    BalasHapus
  7. MasyaaAllah... Tersentuh bacanya.. 😌
    Semoga apa yg dicita-citakan saudara didengar Oleh Allah.. Aamiin..

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ronda yang Menjaga